Kapal Marianne, Swedia, salah satu kapal aktivis Koalisi Freedom Frotilla yang menembus blokade pasukan Israel di Gaza hilang kontak sesudah dicegat pasukan Israel. Sedang kapal lain dari beberapa aktivis penolong rakyat Gaza itu berbalik arah.
Pihak Freedom Flotilla menyampaikan, kapal Marianne hilang kontak pada jam 10. 57. Kapal itu telah meniti jarak seputar 100 mil laut dari maksudnya waktu pencegatan berlangsung.
Juru bicara militer Israel, Peter Lerner, sudah mengkonfirmasi bahwa pencegatan kapal-kapal aktivis Flotilla dikerjakan Angkatan Laut Israel. Menurut dia, kapal Marianne saat ini tengah diantar ke Pelabuhan Ashdod. ”Setelah meremehkan perintah supaya merubah arah, ” kata Lerner, Senin (29/6/2015).
Militer Israel (IDF) juga mengaku tindakan pencegatan kapal beberapa aktivis penembus blokade di Jalur Gaza itu. ”Pemerintah Israel memerintahkan Angkatan Laut-nya untuk ‘mengarahkan’ kapal sesudah seluruhnya sistem diplomatik yang melelahkan, ” bunyi pernyataan IDF.
“Setelah kru kapal Marianne menampik untuk merubah arah, Angkatan Laut (Israel) mendatangi kapal itu serta menyebutkan pemakaian kemampuan itu tak perlu. Sistem telah jalan lancer. ”Kapal sekarang ini tengah diantar ke Pelabuhan Ashdod serta diinginkan tiba kurun waktu 12-24 jam, ” lanjut pernyataan IDF.
Pada awal mulanya, empat kapal pergi dari beragam pelabuhan di Yunani pada Sabtu akhir minggu lantas. Empat kapal itu berupaya untuk mematahkan blokade Israel atas lokasi Jalur Gaza yang telah berjalan sepanjang delapan th..
Dalam tindakan kapal-kapal aktivis yang sejumlah seputar 70 orang itu, bekas Presiden Tunisia, Moncef Marzouki serta politisi Spanyol, Ana Maria Miranda Paza, ada di dalamnya.
Beberapa petinggi Israel tempo hari menyampaikan bahwa mereka akan tidak mengizinkan kapal-kapal aktivis itu meraih pantai Gaza. ”Kementerian Luar Negeri Israel serta seluruhnya tubuh berkenaan yang lain, beberapa besar IDF (Pasukan Pertahanan Israel) serta Kantor Perdana Menteri, betul-betul siap untuk (menghindar) kehadiran armada itu. Kami siap untuk tiap-tiap skenario yang mungkin saja berlangsung, ” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Israel, Emmanuel Nahason seperti The Times of Israel

0 komentar:
Posting Komentar